Langsung ke konten utama

Postingan

PUISI; TIDAK ADA JUDUL

 Semuanya larut begitu saja Dalam tangki motormu yang kuisi dua liter  Sebagai ucapan terimakasih  Atas perjalanan singkat kita dimalam yang kaku Kau pergi begitu saja Tanpa pesan meninggalkan derus mesin Scoopy putih dalam dadaku Deru mesin yang memompa jantungku berdetak lebih kencang Sekencang hisapan rokok suryaku menjelang pagi di balkon rumah Rumah kawan pelarian ku malam itu 2025, awal tahun yang buruk untuk memperbaiki hubungan kita Entah bagaimana jadinya nanti aku tidak tau Menunggu atau aku yang akan menghampirimu  Makin lama matahari makin hangat Dan kubiarkan resah menguap di udara Semoga hangat sampai ke dadamu di pagi buta Jogja, 4 Januari 2025

CERITA SANGAT PENDEK

Jogja masih setengah sadar saat kami tersesat di gang itu. Aroma bakso dan angin yang lembab menyelimuti malam. Bulan sedang terang - terangnya, menjadikan jalan ini jelas tanpa dibantu oleh cahaya lampu. Namun, apa boleh buat? Terangnya masih saja membuat kami tersesat di gang itu. Di mulut gang, Pria menyebalkan yang bersamaku hampir diserobot orang mabuk. Dan aku yang terburu-buru mengikuti petunjuk arah di gawai terus berjalan. Sampai seseorang menegur kami. "Mau kemana Mba?" Tanya salah seorang di mulut gang itu. "Mau nyari masjid Pak," jawabku ringkas. Seorang Ibuk dengan rokok di sela jari mengernyitkan dahi. Seperti menyembunyikan sesuatu, dia mengatakan bahwa masjid ada di luar gang itu. Padahal, jelas - jelas penunjuk arah menuntun kami ke dalam gang ini. Dialogpun agak intens antara kami dan mereka yang berada di mulut gang. Mereka dengan wajah tidak yakin dan kami dengan wajah kebingungan. Bermaksud untuk tidak memperpanjang dialog, kami memutuskan untuk...

PUISI; AKU BARU 23 TAHUN

Aku baru 23 tahun saat kota ini telah tumbuh di abad yang jauh Kota yang tumbuh dari cinta, menjadi pupuk paling purba di kesuburan hatinya  Serupa kota, aku ingin tumbuh bersamamu di atasnya Berbunga lalu berbuah Ranum dan merekah  Tak apa, jika gang - gang sempit membuat kita tersudut dari jahatnya manusia Sungai mataram akan membawa duka bersama airnya yang coklat  Kita tak pernah kalah, sebab kota selalu memeluk kita Dan pantai selatan selalu menyambut senyummu di pangkal hari  Sayang, tak perlu risau Menetaplah di kota ini Bersamaku dan hanya untukku Rindu akan selalu membawa kita datang dan pergi  Di kota ini, hidup adalah penantian jalan pulang Dan pulang adalah makna yang akan membawa kita kembali Mari, kita tumbuh serupa kota ini Jogja, 29 November 2024

PUISI; DI JALANAN JOGJA II

Bu, air matamu mengalir bersamaku dijalanan Jogja  Semakin deras memicu kakiku melangkah jauh Meninggalkan duka yang kau tanak setiap pagi  Di tungku masa kecilku itu Bu, antara kau dan aku Tak ada jarak yang berarti  Sebab rinduku habis untukmu Tak kusisakan sebutirpun pada siapapun dalam pinggan hatiku Bu, ucapkan dalam do'amu Bahwa kita abadi, seperti hujan ini Jogja, 25 November 2024

PUISI; DI JALANAN JOGJA

Bu, aku melihat umurku terjalin dengan jalanan Di jalanan jogja ini bu, hari - hari berselang tak menentu dalam pikiranku Sesekali, matahari memancarkan cahaya masa depan yang cerah Kadang juga, hujan datang membuat senyumku buyar karena rumitnya kenyatan Bu, umurku yang terjalin dengan jalanan itu Terus mengalir pada tujuan tak bertepi Jalan bercabang yang aku temui membawaku pada hidup yang absurd, serupa kata Camus Aku akan susuri terus jalan itu Bu, tanpa henti, seperti aku menghisap asi dari dadamu dulu Sebab kemanapun aku pergi dalam jalinan jalan itu Ada darahmu yang menemani dan menjadi asa dalam hidup ku ini Hidup yang absurd kata Camus itu Jogja, 19 November 2024

PUISI; MENGAPA - JIKA

Mengapa aku harus merindukanmu  Jika semua rindu hanyalah milik - Nya? Mengapa aku harus mencintaimu  Jika semua cinta hanyalah milik  - Nya? Dan mengapa kalian sulit melepasnya Jika segala kepemilikan hanyalah punya yang kuasa? Jogja, 31 Oktober 2024

PUISI; RIAK YANG SAMA

Aku kembali dengan riak yang sama dan desau yang nyaring tak seberapa   Jelaslah, jalan ini belum cukup dalam terselami   Di Merak Ombak enggan membiru   Sedang kapal tak tau menahu; menarik detik; menyebrang waktu; mengantarku pada dermaga ungu;   Aku berlayar di samudera balada itu   Matahari terbenam di ufuk kelabu Menyisakan aku dengan riak yang tak dalam itu   Merak, 4 April 2024

PUISI; PARFUMMU DI JALANAN KOTA

Hujan menyirami parfummu di jalanan kota Wanginya telah lama mengusir sedap malam saat gelap Dan kita, tak akan menyeruak bersama fajar mulai resah Di altar kota, sebuah angkringan memancarkan cinta yang tidak sefrekuensi dari radio   Kita pura - pura menelawan tawa dalam sebuah nasi kucing   Dan biarlah aku akan mencintaimu lewat suara samar di radio itu Nasi sudah menjadi bubur Dan engkau tak akan mau dengarkan lirih hatinya yang lembek ini Maret, 2024

PUISI; PANCAROBA

Pancaroba bermusim dalam dada Menyisakan bibir gersang Menceracaulah kemarau   Kayu bersilang dalam hati seorang bocah pelempar batu Mengepulkan asap timah perlawanan Memecah salju langit Timur   Dan mesiu menyeruak dalam ingatan Membumbung menjelma langit merah Menggumpal dan tumpah   Hujan jatuh dari pelupuk mata   Suaramu parau Hingga tak ada lagi yang bisa kami dengar Dari teriakan paling tragis umat manusia “Intifadha!”   Setiap malam dalam musim pancaroba Api menghunjam dari lintasan Buroq suci menuju kerak bumi Mengancurkan mimpi bocah pelempar batu   Dan ruh kudus datang menyelimutimu Sedang kau berbisik "Kami tak takut mati, bukan berarti kami tidak ingin hidup!"   Jogja, 24 Februari 2024            

PUISI; TITIK KOMA

Aku membacamu tanpa mengenal titik dan koma   Pada paragraf yang sulit Aku mengernyitkan dahi   Mengulangi setiap kalimat Mencari kata yang tak berkesimpulan   Sukar dan Sekar yang aku bacai Kau adalah buku tanpa halaman   Tak berhitungan aku balik setiap lembaran   Tak berkesudahan aku cintai setiap kerumitan   Dan aku akan terus mencintaimu tanpa mengenal titik dan koma

PUISI; YANG BERMUKIM DI ATAS KEPALA

Yang bermukim di atas kepala Adalah segala ingatan yang tak kunjung roboh Dan segala angan yang semakin kokoh   Ilalang bertumbuh liar Dirayapi ular Dihinggapi belalang   Berkembang bunga Anyelir Menyeruak harum Menumbuh ingin   Yang bermukim di atas kepala Adalah jalan penuh duri Menusuk – nusuk dalam mimpi  

PUISI; DILUAR BATAS KEWARASAN

Diluar batas kewarasan menghampar semak belukar kejadian   ilalang tumbuh dan saling menusuk   padang mengepulkan debu perang bala pasukan yang mengaburkan pandangan   orang-orang yang bergigi lebih lunak dari lidah berumah ditepian pantai dengan lamuan ombak paling ganas   diluar batas kewarasan manusia hidup tanpa kemanusiaan   akal hanyalah seonggok daging yang kapan saja dapat ditebas oleh pedang kesatria Sedang di dalam batas kewarasan semak belukar tak dapat lagi disiangi padang pasir tak usai disirami orang-orang hanya menunggu kabar baik riwayat hidupnya setelah ombak menerjang   didalam batas kewarasan manusia hidup tak seperti manusia   akal hanyalah seonggok daging yang kapan saja dapat diobral murah oleh saudagar kaya

PUISI; SEPANJANG HISAPAN ROKOK

Berceritalah sepanjang hisapan rokokku yang paling dalam   Aku ingin mendengar suaramu disela bara api yang menyala pada gulungan kertas   Membalut aroma tembakau dan cengkeh yang menyeruak dalam alam pikir   Masuklah dalam paru dan jantung yang membuatku merasa hidup meski khawatir kematian   Berceritalah sebanyak nikotin yang aku hisap dalam tembakau   aku ingin menjadi pencandumu disela rasa cemburu yang menghantui pada setiap malam

PUISI; MATI DALAM KEADAAN KIRI

Siapa yang ingin mati Seperti Tan Mati dengan kalimat revolusi Yang dikubur oleh iri dengki   Siapa yang ingin mati Seperti Gie Mati dengan batu keyakinan Yang ditelan kawah sang kawan   Siapa yang ingin mati Seperti Wiji Mati dengan bola mata Yang dirampas oleh realita   Sedang kini Siapa lagi yang ingin mati Dalam keadaan kiri ?   Dirayakan dan diarak balada orang kekirian Membusuk dalam peti kendali kekinian

PUISI; MENCARI PITUAH PADA ABABIL

Dalam lauhul mahfuz Raqib – Atid berebut tinta Di lembah azali             “Janganlah kalian mencampur Kebenaran dan kebatilan!” *** Tipu daya telah merasuk Dan membungkus azimat Pada kantong penjual agama             “Terajang Ia!”             “Telanjangi Ia!” Seorang Gadis Menunggu hikayah Di tepi samudera buas “Jangan Tuan” “Ampun Tuan” *** Dan hikayah Terdampar pada atid Gadis meringis tragis   Sedang burung-burung terbang tanpa arah mencari pituah pada ababil