Langsung ke konten utama

PUISI; TIDAK ADA JUDUL

 Semuanya larut begitu saja

Dalam tangki motormu yang kuisi dua liter 

Sebagai ucapan terimakasih 

Atas perjalanan singkat kita dimalam yang kaku


Kau pergi begitu saja

Tanpa pesan meninggalkan derus mesin Scoopy putih dalam dadaku

Deru mesin yang memompa jantungku berdetak lebih kencang

Sekencang hisapan rokok suryaku menjelang pagi di balkon rumah

Rumah kawan pelarian ku malam itu


2025, awal tahun yang buruk untuk memperbaiki hubungan kita

Entah bagaimana jadinya nanti aku tidak tau

Menunggu atau aku yang akan menghampirimu 


Makin lama matahari makin hangat

Dan kubiarkan resah menguap di udara

Semoga hangat sampai ke dadamu di pagi buta


Jogja, 4 Januari 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT KALENG UNTUK IKATAN

 Surat Kaleng untuk Ikatan | Edisi Pelantikan DPD IMM DIY Malam ini, saya kembali menguatkan hati untuk tetap semangat dalam ber-IMM. Kalimat "mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah" itu saya renungkan kembali. Kalimat yang harus dihafalkan jika ingin menjadi kader Ikatan ini. Kalimat dengan tujuan yang adiluhung dan penuh kesadaran intelektual di dalamnya. Sebuah ideologi organisasi! Saya membayangkan, bagaimana kalimat itu dilahirkan dan menjadi kesepakatan bersama para pendahulu. Spirit zaman dan etos seperti apa yang ingin mereka lakukan dengan kalimat sakti tersebut. IMM, katanya berdiri untuk menyelamatkan mahasiswa dan umat dari agresifitas penguasa saat itu. Meskipun hari ini, menurut saya kalimat itu sudah tidak lagi ada maknanya. Kalimat yang sering diucapkan tergesa-gesa agar ingatan di kepala tidak cepat hilang. Ideologi, sudah tidak berada lagi di kepala, ia hanya terselip di lidah sebagai sebuah h...

PUISI; AKU BARU 23 TAHUN

Aku baru 23 tahun saat kota ini telah tumbuh di abad yang jauh Kota yang tumbuh dari cinta, menjadi pupuk paling purba di kesuburan hatinya  Serupa kota, aku ingin tumbuh bersamamu di atasnya Berbunga lalu berbuah Ranum dan merekah  Tak apa, jika gang - gang sempit membuat kita tersudut dari jahatnya manusia Sungai mataram akan membawa duka bersama airnya yang coklat  Kita tak pernah kalah, sebab kota selalu memeluk kita Dan pantai selatan selalu menyambut senyummu di pangkal hari  Sayang, tak perlu risau Menetaplah di kota ini Bersamaku dan hanya untukku Rindu akan selalu membawa kita datang dan pergi  Di kota ini, hidup adalah penantian jalan pulang Dan pulang adalah makna yang akan membawa kita kembali Mari, kita tumbuh serupa kota ini Jogja, 29 November 2024